Tuesday, 2 September 2014

Positif Think :)


Saat orang tua berada dalam keadaan tertekan, stress, feel unhappy, maka anak pun bisa merasakannya.. Sebaliknya, saat orang tua berada dalam kondisi jiwa yang tenang, bahagia..pasti anak pun bisa merasakannya..

Hasil sharing hari ini dengan kakak saya adalah bahwa peran orang tua memang sangat berpengaruh besar terhadap anak. Tidak semua anak merasakan kenyamanan dalam sebuah keluarga, membuat saya berpikir bahwa apa yang saya rasakan selama hampir 20 tahun menjadikan pengalaman terpenting dan pembelajaran bagi saya. Sebab, dengan pernah menjalankan kehidupan layaknya anak-anak tanpa pengawasan serta kasih sayang full dari orang tua menyadarkan saya untuk menjadi pribadi yang dapat memberikan kasih sayang lebih dari apa yang ditanamkan oleh keluarga saya. 

Harapan terbesar perempuan adalah menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu yang mampu menghasilkan, mengasihi, mendidik anak yang patut dicintai dan dibanggakan. Walaupun sering lalai dan merasa lemah, saya memiliki harapan yang sangat besar agar melahirkan anak-anak yang tumbuh melalui rasa, sikap dan pikiran yang positif. Menanamkan kebaikan dari apa yang telah saya lalui selama sekian tahun. Menjauhkan dari apa yang buruk dari dalam diri saya. Sehingga, apa yang saya harapkan dan usahakan akan membuahkan anak-anak yang selalu merasa dekat dengan keluarga dengan pondasi yang kokoh pula. Untuk itu, saya mengidamkan sesosok imam yang mampu membimbing dan mengingatkan saya akan hal-hal yang perlu tidaknya dilakukan.

Bagaimanapun dan sampai kapanpun, orang tua kita akan tetap menjadi orang tua tanpa pernah bisa tergantikan.

Friday, 15 August 2014

space.


Bayi yang tinggal terpisah dengan ibunya, meski hanya satu malam, diketahui memiliki hubungan yang lebih renggang dibandingkan dengan bayi dan anak yang tinggal bersama ibunya. Hal ini biasanya terjadi pada anak yang orang tuanya hidup terpisah. Hasil ini ditemukan oleh peneliti di University of Virginia setelah menganalisis data dari ribuan anak yang lahir di Amerika pada tahun 1998 sampai 2000  (Merdeka.com)

Membaca prolog artikel tsb, mengingatkan saya pada masa-masa dimana adik perempuan saya yang baru beberapa bulan lahir diharuskan untuk hidup tanpa pengawasan seorang ibu. Waktu itu, umur saya sekitar 6 tahun. Saya merasakan adanya dampak yang begitu besar dengan terjadinya permasalahan dalam kehidupan saya setelah itu, mengapa? Saya hanya dapat menerka-nerka bahwa kami sangat butuh perhatian dan kasih sayang khusus dari orang tua kepada anak yang diberikan pada umumnya. Hingga kini umur saya 20 tahun, saya rasa jarak atau kerenggangan masih akan tetap ada. Apakah ini keinginan saya? Tidak, tidak sama sekali.

Harapan semua orang adalah membina, memperoleh serta menikmati keharmonisan dalam hubungan suatu keluarga. Baik suami dengan istri dan sebaliknya, orangtua dengan anak dan sebaliknya. Sejak kehadiran sosok perempuan atas dasar mencintai papa dan ingin menjadi seorang ibu (apapun kesulitannya) dari keempat anaknya, seakan kami memiliki harapan kembali untuk menjalani kehidupan yang utuh (lagi). Namun, sangat disayangkan harapan itu tidak benar-benar berbuah manis. Berbeda garis.

Awal-awal tahun, kami masih dalam proses adaptasi untuk saling menerima posisi. Andai  kala itu saya memiliki keberanian mengingatkan kepadanya bahwa “kedekatan fisik bagi anak usia dibawah 7 tahun adalah sesuatu yang memang diperlukan. Mereka belum bisa membayangkan sosok orangtua yang tidak ada di dekatnya.” Akan saya ungkapkan agar adik saya diberi kedekatan khusus. Bahkan, terkadang dengan orangtua tanpa sadar terlalu over estimate pada anak, padahal sebenarnya mereka juga masih butuh dimanjakan dan didengarkan maka, kurangnya komunikasi mendalam antara anak dan orangtua, berdampak negatif pada perkembangan emosi anak.

"Keterampilan komunikasi anak menjadi kurang diasah sehingga anak lebih individualis. Mereka juga rentan jadi pemberontak, terutama pada anak yang bawaannya memang keras," (Kompas.com)

Untuk itu, obrolan mendalam antara orangtua dan anak sebenarnya membantu anak mengatur emosinya. Sedangkan anak-anak yang jarang diajak ngobrol dengan orangtuanya cenderung merasa "kosong" dalam jiwanya sehingga mereka akan mencari orang lain untuk mengisi kekosongan tersebut. Wajar, bukan?

Kedekatan secara fisik dengan anak seharusnya menjadi keistimewaan yang patut disyukuri karena orangtua bisa melihat secara langsung perkembangan anak. Dengan menerapkan komunikasi yang efektif, baik keluarga yang terpisah jarak maupun keluarga yang satu atap, bisa mencegah pengaruh negatif terhadap perkembangan anak. Bersyukurlah kamu yang dapat merasakan berbagai kedekatan dengan keluarga, feel and spread love :)



Tuesday, 8 July 2014

Satu shaf dibelakangmu

Satu waktu, ijinkan aku berada satu shaf dibelakangmu
Mengikuti gerakan sholatmu dari takbir hingga salam
Kemudian mencium tanganmu dan berdoa bersama

Satu waktu, ijinkan aku berada satu shaf dibelakangmu
Mengikutimu, menghormati dan menghargaimu
Karena bagiku, kamu bukan hanya kepala namun juga pemimpin

Satu waktu, ijinkan aku berada satu shaf dibelakangmu
Menyemangati setiap langkahmu dari belakang
Menjadi tempatmu berbagi untuk mengambil keputusan

Satu waktu, ijinkan aku berada satu shaf dibelakangmu
Berbaliklah jika lelah dan kau ingin mengeluh
Aku rumahmu...

Wednesday, 25 June 2014

Sajak kecil

Yang  berawal dari mata

Tak semua turun ke hati

Jiwa-jiwa pilihan

Akan mampu merasakan

Nikmat tuhan yang sesungguhnya

Thursday, 19 June 2014

Ketika cinta

Ketika cinta tak lagi bicara

Airmata meminta untuk terus mengalir

Ada rasa yang tertahan namun sulit diungkapkan

Masih kah kau sebut cinta

Kisah kita tak lagi searah

Meski raga saling menggenggam

Rasanya harapan tak lagi berkaitan

Jangan lagi saling memuji

Jika hati sudah mulai membenci

Tak berarti kita harus selalu satu

Dekatkan dulu saja diri ke Tuhan yang Maha Satu

Ra

Monday, 21 April 2014

Tanpa judul


Haruskah aku merasakan satu kali lagi atau perlu berkali-kali kehilangan sesosok perempuan yang seharusnya mendampingi Papa?
Haruskah aku melihat betapa kemuraman menyelimuti itu?
Haruskah aku kembali menyaksikan seorang pekerja keras seperti Papa berdiri seorang diri?
Haruskah aku mendengar samar lantunan suara Papa yang sedang membaca ayat suci al quran di sudut ruangan?
Haruskah ujian ini menimpaku sekali lagi?
Atau akan lebih dari ini?

--Aku, yang masih ingin dan harus terus berjalan melewati kerikil-kerikil tajam karena, dari, yang juga untuk-Nya.


Tuesday, 4 March 2014

Orang ketiga



Orang ketiga



Angin lalu tak melulu berlalu

Kecuali ia malu

Tak ingin lagi bertemu

Biarkan saja berlalu

Hingga ia tak lagi malu

Inginkan kembali bertemu

Segera kau dan aku menyatu

Biar ia lagi dan lagi malu

Melihat kita kembali menyatu

Karena angin yang telah berlalu

Ia tak berani mengganggu


                                                                      Ra