Semoga Allah masih terus titipkan nikmat sehat untuk Papah dan Bunda.
Pah.. Bunda..
Sebelumnya Rahma minta maaf lagi dan lagi hanya melalui tulisan Rahma bisa menyampaikan apa yg menjadi isi hati seorang anak untuk orangtua, karena betul-betul sampai hari ini Rahma belum mampu untuk mengungkapkannya secara lisan.
Semenjak menjadi orangtua.. Rahma semakin paham bahwa Allah hadirkan kita semua di dunia untuk beribadah kepada Allah.
Manusia menurut fitrahnya telah beragama, mengakui dan bersaksi bahwa Allah adalah tuhannya. Maka kalau ada orang yang tidak beragama tauhid, sesungguhnya itu tidak wajar. Biasanya hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh lingkungan sekitarnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanya yang akan membuat dia yahudi, nasrani, dan majusi” (H.R. Muslim).
Fitrah itu ibarat benih yang Allah titipkan kepada Papah dan Bunda untuk dirawat dan ditumbuhkan sesuai kadar-kadar fitrah itu agar kelak menjadi pohon yang baik, yang akarnya menghunjam ke tanah dan batangnya menjulang ke langit, daunnya rimbung menaungi dan buahnya lebat memberikan manfaat bagi semesta.
Maka peran fitrah Papah dan Bunda dalam mendidik, sangat mirip dengan peran seorang petani atau pekebun, yang tidak boleh berlebihan obsesif dan tidak boleh lalai pesimis. Maka setiap fitrah dan juga tiap tahap perkembangan fitrah harus dipahami baik-baik indikatornya agar tanaman yang kita pelihara akan tumbuh menjadi pohon yang baik atau Syajarotutthoyibah.
Setiap anak lahir dgn fitrah kepemimpinan. Tidak ada yg lahir kecuali Allah telah menyertakan fitrah itu padanya.
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban."
Setiap tindakan atau perbuatan manusia dalam Islam selalu bersumber dari dalam jiwanya. Manusia bukan makhluk kosong tanpa jiwa atau makhluk seperti hewan yang bisa dilatih sesuai mau pelatihnya.
Hadits Arbain yang pertama dari Imam Nawawi rahimahullah menggambarkan bahwa amal itu dipicu oleh intrinsic motivation, atau motif dari dalam jiwa manusia, yang disebut dengan Niyaah. Niyaah ini tentu bersesuaian dengan Fitrah.
Ibarat pohon, Akhlaq adalah buah, yang harus tumbuh dari Benih yang baik.
Karenanya Abdul Qadir Jailani rahimahullah, mengatakan bahwa di dalam jiwa ada benih yang apabila dirawat, ditumbuhkan maka ia akan menjadi pohon yang baik, sebagaimana diumpamakan di dalam alQuran dengan SyajarotuThoyyibah, yang akarnya menghunjam ke bumi, batangnya menjulang ke langit, buahnya memberi manfaat pada setiap musim. Benih yang baik, bagi pohon yang baik, sehingga berbuah baik, itulah fitrah.
Hidup adalah pilihan, namun bukan pilihan yang merdeka semaunya, namun pilihan yang mempriotaskan suatu kebaikan yang mutlak, sebagai kebahagiaan hakiki dan agar jangan menyesal kelak. Bila mengandalkan aqal maka suatu saat anda akan ragu dan skeptis tanpa kepastian.
Apabila belum sanggup karena situasi dan kondisi maka berusahalah dan berikhtiyarlah sehingga tak berkepanjangan dan merobohkan semua hak fitrah lalu menjadi penyesalan.
Sesungguhnya Robbmu menghendaki kebaikan bagimu, diberikanNya fitrah dalam dirimu dan anak-anakmu agar engkau memenuhi haknya sehingga kau bahagia.
Syukur bukanlah menerima apa yang ada (take it for granted) dan Shabar bukanlah bertahan dengan apa yang ada, namun menggali maksud Allah dibalik semua peristiwa, kesenangan maupun kesulitan, kelimpahan maupun kesempitan.
Ketahuilah bahwa banyak pasangan yang tidak segera menemukan misi keluarganya, tak menyadari pentingnya petajalan pernikahan menuju Allah, gagal mengkristalkan perjuangan bersama untuk menolong ummat atau agama Allah yang membuat cinta mereka makin merekah indah dan muthmainnah, lalu menjadi cinta ilahi yang abadi.
Inilah makna syukur sesungguhnya, menggali maksud Allah dibalik semua karunia baik sukses maupun gagal, yaitu menemukan kebermaknaan dan misi pernikahan.
Di sisi lain, banyak pasangan juga tak tahu bagaimana merencanakan kebahagiaan dalam hakekat kebahagiaan hakiki selaras fitrah dan sesuai maksud kebahagiaan (sa'adah) dalam Kitabullah, sehingga kemudian salah makna dan salah fokus, lalu hanya melulu fokus dan obsesi perbaikan ekonomi dan sosial. Maka kita saksikan, ketika sukses materi dan jabatan, atau gagal sukses materi dan jabatan, maka sama saja, pusaran hampa.
Inilah sesungguhnya hakekat Shabar, yaitu aktif merencanakan dan berjuang (mujahadah) mencapai keseimbangan hidup dan kebahagiaan hakiki selaras fitrah, bukan shabar dalam mengejar kesenangan atau menahan godaan.
Tanpa kejelasan misi pernikahan yang membuat cinta makin merekah indah, dan tanpa kemampuan merancang keseimbangan dan kebahagiaan hakiki, maka sesungguhnya fondasi pernikahan rapuh dan goyah mudah pecah, tinggal menunggu siapa yang lebih dulu berselingkuh atau siapa dulu yang khianat, yang menjadi penyebab robohnya bangunan dan perpisahan atau bisa saja terus bertahan sampai tua padahal sebenarnya jiwanya sudah berpisah sejak lama.
• Semoga kini kau paham, mengapa para suami atau istri yang selalu merasa benar karena egonya, dan selalu menyalahkan orang lain itu maka selamanya tak akan pernah bahagia sampai ia mau bertaubat, kembali kepada fitrahnya. Jika tidak maka ia akan terus berkutat dengan kebodohannya bahkan ignorant (bodoh namun tak tahu dirinya bodoh) walaupun berkali kali ganti pasangan. Itulah mengapa ia akan selalu menderita, karena alih alih sadar dan berusaha kembali kepada fitrahnya, tetapi ia sibuk menyalahkan orang lain bukan menyalahkan dirinya, motifnya adalah egocentric, dirinya pusat semesta.
Semoga melalui beberapa hal yg Rahma sampaikan ini.. bisa sedikit membuka hati dan mata Papah Bunda untuk menyimpulkan dan menemukan solusi yg tepat utk hubungan rumah tangga Papah juga Bunda ke depannya.
