Thursday, 4 June 2015

True..love

Cinta sejati adalah cinta yang mampu membuatmu bertahan
bertahan dari pengharapan, bertahan dari kegelisahan, bertahan dari kekurangan dan ketidaksempurnaan
bertahan dari ego yang tinggi, juga bertahan dari rasa sakit

(mungkin) ada saat-saat di dalam hidup di mana cinta itu akan menyusut
cintamu akan berubah
cintamu akan bosan, dan mencari hal-hal baru
bahkan, ada saat-saat di mana kamu ingin menyerah

tetapi, cintamu haruslah bertahan
cintamu haruslah kuat
cintamu harus lebih besar dari egomu
harus lebih luas dari pikiran-pikiran sempit itu
harus lebih menang dari keinginan-keinginan pribadimu

Monday, 18 May 2015

Wanita Part 1

Untaian kalimat indah tentang wanita --karya Syaikh A'idh Al-Qarni

Wanita itu seperti Kopi; jika kau abaikan, ia menjadi dingin, sampai dalam cita rasanya.
Saat wanita diam di depan orang yang ia cintai, muncul lah banyak kata dalam bentuk air mata.
Wanita itu mulanya takut mendekatimu, namun pada akhirnya ia menangis saat kamu menjauh darinya. Sedikit sekali yang memahaminya.
Wanita itu tak menginginkan kemustahilan darimu, ia hanya ingin agar kau seperti lelaki yang kau bayangkan tentang saudari kandungnya.
Wanita itu tipu daya besar atau cinta yang agung, dan engkaulah yang menemukannya, wahai lelaki. Jika kau membuat makar atasnya, dia pun membuat makar kepadamu.
Tapi jika kau mencintainya,  ia pun kasmaran terhadapmu.
Sesuai dengan tingkat cintamu pada wanita, seperti itulah ia cemburu. Karenanya, apa saja yang membuat wanita menjadi gila karena cemburu, itu juga yang membuatnya gila karena cinta.
Wanita itu mengobati, padahal ia sedang demam. Membantu, padahal ia sedang susah. Begadang, padahal ia sedang lelah.
Wanita itu selalu ingin diperlakukan seperti bocah kecil betapapun ia menua.
Jangan berani mengetuk pintu hati wanita jika kau tak membawa berkoper-koper perhatian.
Saat wanita cemburu, buatlah lukisan ciuman pada kedua tangannya, biarkan ia merasakan bahwa ia merupakan kenikmatan Allah SWT yang sangat besar bagimu.

Dikutip dari buku Arasy Cinta

Friday, 23 January 2015

Serdadu Rindu

Ketika serdadu rindu melawan waktu
Sisa-sisa makna kali itu hanya menjadi kisah yang ditumpuk menjadi kenangan
Ketika waktu pun enggan menentukan dan memberi tahu
Biar kejutan kecil Tuhan yang menjadikannya nyata
Bila tak saling jumpa tak apa, aku masih bisa menyentuh sukmamu
Begitu sama nasibnya ketika serdadu rindu membelenggu aku dan kamu
Tuhan hanya bisa tersenyum
"Aku menguji mereka untuk saling percaya dan berdoa"
Bila mereka tak lupa dibalik kasih serta cinta yang menjadikannya rindu, "ada Aku yang harus mereka cintai lebih dulu."

Tuesday, 23 December 2014

RESENSI FILM


Judul                  : Pendekar Tongkat Emas
Sutradara            : Ifa Isfansyah
Produser             : Mira Lesmana, Riri Riza
Penulis Naskah    : Jujur Prananto
Pemain         : Christine Hakim, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Eva Celia, Tara Basro, Aria Kusumah, Landung Simatupang, Whani Darmawan, Slamet Rahardjo, Darius Sinathrya, Prisia Nasution
Genre                 : Aksi (action)

 
Lima hari setelah premiere Pendekar Tongkat Emas, saya pun menyaksikan film yang akhirnya ga melulu bahas percintaan ataupun bergenre horor sama sekali meskipun back sound dari film ini benar-benar buat saya tegang apalagi ditiap adegan petarungan. Awalnya, memang saya tidak begitu tertarik dengan film yang terdengar dari judulnya agak jadul gimana gitu ya, tapi jujur kali ini saya akan membahas butir-butir kelebihan pada film ini.

Film dibuka dengan narasi suara teduh khas Christine Hakim yang langsung membuat hati merenung karena kedalaman filosofinya. Setelah itu, mata akan dimanjakan oleh alam Sumba Timur yang sungguh luar biasa indah.  Pendekar Tongkat Emas ini berkisah tentang Cempaka, Sang Pendekar Sakti pewaris terakhir ilmu jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi yang berencana menurunkan ilmunya kepada salah satu muridnya. Namun, sebelum ia berhasil menurunkan ilmunya, Cempaka tewas terbunuh. Lalu, apa konflik setelahnya? Nonton sendiri ya filmnya.. saya tidak mau spoiler :D

Menurut saya, semua pemain menyatu dalam film ini. Banyaknya pemain papan atas semakin membuat film ini memberi kesan yang begitu “wah”. Semua tidak saling menonjolkan diri tapi terasa pas dalam satu film.

Baru kali ini mata saya dimanjakan sepanjang film berlangsung. Selain lokasi film yang cantik nan indah, tata suara yang tepat tiap momennya hingga quote-quote inspiratif menghiasi film ini. Ga heran sih, ada Seno Gumira Atmaja masuk sebagai salah satu penulis skripnya. Salah satu kutipan yang saya ingat “Sanggupkah menahan diri untuk tidak menang karena sesungguhnya tidak ada kemenangan dalam ilmu apapun ketika kemenangan selalu menjatuhkan korban.”


Ada banyak hal yang dapat saya petik dari film berdurasi 112 menit ini. Ada nilai kesetiaan memegang janji dan menepati konsekuensi apabila melanggarnya. Ada nilai kerja keras dan semangat tak menyerah yang harus terus dikobarkan demi mencapai cita-cita. Dan juga, film ini mengajarkan betapa kepentingan orang banyak harus didahulukan di atas kepentingan diri sendiri. Sungguh, saya menyukai film ini. Sudah semakin jarang film bagus yang mengusung nilai-nilai edukasi bagi yang menontonnya. Ada scene romantisnya memang, namun ga konsen ke arahsana melainkan konsisten mengeksplore tetap pada sisi action-nya.

Oh iya, saya harus mengapresiasi akting Tara Basro yang totalitas banget pada aktingnya. Sangat menjiwai! Saya terbawa suasana dan sampe sebel liat dia yang terkesan licik. Tapi saya sadar, akting yang baik itu yang membuat penonton melibatkan emosinya, bukan?

Harapan saya, semoga semakin banyak PH yang terinspirasi untuk terus meramaikan industri kreatif dalam bidang perfilman dengan karya yang mengutamakan kualitas bukan hanya segi kuantitas. Semoga film ini punya efek yang sama dengan laskar pelangi seperti di belitung dulu, ya ;)

Saturday, 20 December 2014

renungan menjelang akhir tahun


-      ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya... - Al Baqarah: 286

Tidak ada satu orang pun di dunia yang tidak menginginkan kehidupannya ke arah lebih baik. Dari segi pendidikan, karir, maupun hubungan sosial.
Apa kalian pernah merasa gagal dalam ketiga hal tsb? Tentu satu dari ketiganya bahkan hal lain kita semua pernah mengalami kegagalan. Dengan begitu, kita sudah siap untuk melangkah lebih maju apabila kita pernah merasakan jatuh atau kecewa. Seharusnya memang, kegagalan tidak membuat kita pesimis untuk berani berharap serta membentuk perubahan atau istilah jaman sekarangnya “move on”.
Sebagai seorang perempuan, terkadang kita dipengaruhi oleh rasa segan; ketakutan; over thinking sebelum bertindak. Ambil contoh dalam menempuh pendidikan, setinggi apapun jenjangnya harus kita yakini bahwa bidang yang kita jalani tidaklah berat, tetapi dimana ada kemauan disana ada jalan. Berkomit-lah, meskipun adanya rasa kemauan yang terkadang terhalang oleh berbagai alasan yang kita anggap sebagai pembatas antara harapan dan keinginan.

Untuk itu, dalam memenuhi apa yang kita harapkan agar tercapai tentu kita perlu memiliki strategi, bukan?
  •  Target
Kita harus membuat keinginan dan target-target kita menjadi semakin detail dengan memberikan target waktu. Sekali lagi, buatlah target-target itu spesifik, terukur, dan dapat dijalankan. Jangan terlalu menyimpang dari  target masa depan kita yang sebelumnya pernah kita tentukan.
  • Ambisi
Apabila kita sudah menanamkan apa yang kita inginkan melalui hati dan keyakinan kita maka bagaimanapun kondisi, keadaannya akan mampu menggerakan nurani kita untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. 
  •   Hubungan dengan Tuhan
Kunci utama menjalani kehidupan adalah seberapa besar kedekatan kita kepada Sang Pencipta. Dimanapun kita, ingatlah bahwa yang kita kerjakan adalah bukti betapa dekatnya kita dengan Tuhan. 
  •  Support
Makhluk sosial seperti kita ini hidup untuk saling membutuhkan (tolong menolong) maka, seindividual seseorang pun ia perlu pendukung dari orang lain. Dukungan baik moril dan materiil merupakan bentuk bahwa kita hidup untuk; karena orang lain. Berusahalah untuk mendapatkan supporter terbaik kamu, seseorang yang mampu memberimu kenyamanan tidak akan menunda kamu melakukan hal baik untuk kedepan. 
  •   Introspeksi
Sekeras apapun keinginan kita tetapi tidak adanya kesadaran bahwa kita harus memahami seberapa kuat atau mampu kita, sebelum kamu meminta orang lain menghargai kerja kerasmu, sebaiknya kita lebih dulu menghargai jerih payah kita dalam melewati step by step kehidupan.
  •  Do
Setelah menerapkan keempat hal diatas, mari menerapkan prinsip “KERJAKAN APA YANG  SAYA TULIS, TULIS APA YANG SAYA KERJAKAN” maksudnya begini, rencana baik visi dan misi kehidupan sepantasnya kita tulis dalam selembar kertas sebagai reminder apa yang seharusnya hari ini kita kerjakan lalu, sebagai obat lupa baiknya kita menuliskan apa yang sudah kita lakukan hari ini.


-          Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda bersikeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru. – Mario Teguh


Close Books for the Year End

Sunday, 30 November 2014

Resensi


Judul Buku      : Kerudung Merah Kirmidzi
Penulis            : Remy Sylado
Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit     : April 2002
                        Cetakan ketiga, Maret 2004
Jumlah hlm      : 616
ISBN             : 979-9023-72-6


Bisa dikatakan novel ini merupakan novel fiksi yang menyentil persoalan masa orde baru. Kebusukan-kebusukan oknum tertentu direfleksikan dengan tokoh Oom Sam sebagai biangkerok dari seluruh masalah yang berkomplot dengan adiknya sendiri yang memiliki kedudukan penting di kepolisian, SSS. Sedangkan Myrna sebagai tokoh utama hampir membuat saya putus asa karena kepolosannya. Meski pandai berbijak diri, Myrna nyatanya tidak kunjung dapat melakukan hal yang berpengaruh sampai akhir kisahnya.

Banyaknya pengetahuan lagu-lagu standar oleh Myrna dan Luc, juga syair-syair yang dihapalkan di luar kepala oleh Dela, membangun suasana khas dari novel ini. Tiap tokoh digambarkan begitu berkarakter dan kompleks hidupnya. Namun sayang, beberapa tokoh yang ‘dimatikan’ begitu saja membuat cerita terkesan klise.

Penggunaan bahasa daerah; Jawa, Sunda, dan Bali, disamping bahasa Inggris membuat pembaca harus membaca dua kali untuk memahaminya, namun saya rasa penulis cukup berperan dalam membantu melestarikan bahasa daerah.

Oh ya, tadinya dari judul novel ini, saya sempat mengira bahwa akan terasa kental bahasan agamisnya, tetapi tidak sama sekali. Penulis sama sekali tidak menyentil urusan kepercayaan menyeluruh, namun memang sedikit menuangkan pikiran ketidaktepatan kepercayaan atheis.