Wednesday, 25 June 2014

Sajak kecil

Yang  berawal dari mata

Tak semua turun ke hati

Jiwa-jiwa pilihan

Akan mampu merasakan

Nikmat tuhan yang sesungguhnya

Thursday, 19 June 2014

Ketika cinta

Ketika cinta tak lagi bicara

Airmata meminta untuk terus mengalir

Ada rasa yang tertahan namun sulit diungkapkan

Masih kah kau sebut cinta

Kisah kita tak lagi searah

Meski raga saling menggenggam

Rasanya harapan tak lagi berkaitan

Jangan lagi saling memuji

Jika hati sudah mulai membenci

Tak berarti kita harus selalu satu

Dekatkan dulu saja diri ke Tuhan yang Maha Satu

Ra

Monday, 21 April 2014

Tanpa judul


Haruskah aku merasakan satu kali lagi atau perlu berkali-kali kehilangan sesosok perempuan yang seharusnya mendampingi Papa?
Haruskah aku melihat betapa kemuraman menyelimuti itu?
Haruskah aku kembali menyaksikan seorang pekerja keras seperti Papa berdiri seorang diri?
Haruskah aku mendengar samar lantunan suara Papa yang sedang membaca ayat suci al quran di sudut ruangan?
Haruskah ujian ini menimpaku sekali lagi?
Atau akan lebih dari ini?

--Aku, yang masih ingin dan harus terus berjalan melewati kerikil-kerikil tajam karena, dari, yang juga untuk-Nya.


Tuesday, 4 March 2014

Orang ketiga



Orang ketiga



Angin lalu tak melulu berlalu

Kecuali ia malu

Tak ingin lagi bertemu

Biarkan saja berlalu

Hingga ia tak lagi malu

Inginkan kembali bertemu

Segera kau dan aku menyatu

Biar ia lagi dan lagi malu

Melihat kita kembali menyatu

Karena angin yang telah berlalu

Ia tak berani mengganggu


                                                                      Ra

Monday, 3 March 2014

[Berteman Angin]



Berteman Angin
Dedaunan terjatuh dari ranting-ranting pohon
Meletakkan diri berserakan
Hijau basah, cokelat kering bahkan abstrak tak berwarna
Bukan soal umur, melulu masalah waktu
Kasat mata tak memiliki daya guna
Seakan hanya berakhir menjadi tumpukkan sampah
Menjadi abu oleh bakaran semu
Meski angin tak sanggup menghilangkan bekas
Meninggalkan jejak abu lebih dari sekadar sampah
                                    Karena angin tak selalu berdiam diri
                                    Sekumpulan daun akan tetap hidup
                                    Tak ada goyahan untuk menjatuhkan
                                    Hingga benar-benar jatuh, tersungkur
                                    Tergeletak
Terhujani
Terinjak
Terbakar
Mereka masih terus berupa daun
Yang ditemani segelintir angin

                                                            Ra

Tuesday, 25 February 2014

Surabi Durian Keju


Sabtu di sore hari setelah turun hujan, aromanya masih menggoda penghiduanku untuk menyapa alam. Kutengok luar jendela kamarku, terlihat jelas rumput rumah tetangga serta jalan setapak basah dihujani air dari langit. Pohon di ujung jalan menambah kerindangan sore itu. Ingin sekaliku berjalan mengawasi sekeliling daerah rumahku, “pastinya banyak kejadian-kejadian yang mungkin jarang aku temui di tempat lain.” ucapku.
Dengan memakai sweater berwarna merah dan membawa payung lipat sebagai persiapan apabila hujan akan turun lagi setelahnya, akupun berjalan menggunakan sandal jepit hitam yang baru saja aku peroleh dari teman semenjak kepulangannya dari Bali. Ya, aku senang berjalan seorang diri sekadar menikmati kesendirianku mendalami pemikiran maupun menambah pengalamanku mendapatkan hal-hal baru.
Waktu menunjukkan pukul 4 menjelang 5 sore, aku rasa ini belum terlalu sore untukku berjalan sendiri selagi masih di lingkungan rumah. Jalanku pelan melewati sebuah kedai kecil, pangkalan ojek dan beberapa rumah berderet rapi cukup sepi. Namun, ketika aku keluar dari jalan setapak menuju jalan yang lebih luas kiniku menemukan beberapa kendaraan berlalu lalang. Mulai dari sepeda motor, mobil bahkan yang olahraga sore menggunakan sepeda juga ada. Aku rasa ini cukup menarik, jalan licin atau basah tak menjadikan mereka menghentikan mereka beraktivitas.
Udara dingin menyadarkan bahwa hari akan segera gelap, aku masih saja penasaran dengan aktivitas-aktivitas apalagi yang ada di sekitar rumahku. Tak jauh dari arah dimana aku berdiri saat itu, mataku tertuju pada sekerumunan orang yang sedang mengantri di satu kedai menjelaskan bahwa disana menjual ‘Surabi Durian’. Sepertinya itu cukup menggunggah selera disaat setelah hujan, orang-orang memang selau mencari sesuatu yang dapat menghangatkan dan mengenyangkan perut terutama di udara dingin seperti ini.
Aku bukan pecinta buah besar berduri itu, namun aku sedikit tergoda dengan rasa yang diciptakkan olehnya. Walau jika terlalu banyak, aromanya dapat mengganggu penghiduanku maka aku tak terlalu suka makan berlebih. Hanya sekadar ingin mencicipi atau sebagai memuaskan keinginan perutku karena disaat setelah hujan keinginan untuk makan dapat 2 kali lipat dari biasanya.
Aku berbaris mengantri bersama orang-orang yang juga ingin menikmati rasa dari berbagai macam surabi itu. Daftar menu bertuliskan beragam jenis durian yang dikombinasikan oleh doping lain, seperti strawberry, kacang, cokelat, pisang, dan lain-lain. Sebagai pecinta keju, yang menjadi tujuan utamaku adalah mencicipi surabi sore ini dengan rasa kejunya saja. Rasa yang diciptakan oleh buah durian digabung dengan parutan keju pasti akan semakin lebih nikmat di lidah.



Ternyata benar, surabi hangat sudah siap dihidangkan dan aku nikmati. Aromanya pun hangat, manis seakan tak sanggup aku ungkapkan lagi. Memintaku untuk lekas menyantapnya, ditemani segelas susu cokelat hangat menambah kenikmatan soreku itu. “Tak sia-sia aku berjalan cukup jauh dari rumah.” Ungkapku.
Rintikan gerimis turun lagi, mendinginkan situasi lagi, melaparkan isi perutku lagi. Sepertinya aku masih betah disini, tak ingin pulang. Aku mengambil ponsel di saku celanaku dan mengirim pesan ke seorang teman sebagai penawaranku menikmati surabi bersama sekaligus menemaniku mengobrol hingga tak terasa haripun larut malam. Akan terasa lengkap sabtu dinginku itu dengannya, ya sebut saja ia kekasihku.