Thursday, 19 March 2015
Friday, 23 January 2015
Serdadu Rindu
Ketika serdadu rindu melawan waktu
Sisa-sisa makna kali itu hanya menjadi kisah yang ditumpuk menjadi kenangan
Ketika waktu pun enggan menentukan dan memberi tahu
Biar kejutan kecil Tuhan yang menjadikannya nyata
Bila tak saling jumpa tak apa, aku masih bisa menyentuh sukmamu
Begitu sama nasibnya ketika serdadu rindu membelenggu aku dan kamu
Tuhan hanya bisa tersenyum
"Aku menguji mereka untuk saling percaya dan berdoa"
Bila mereka tak lupa dibalik kasih serta cinta yang menjadikannya rindu, "ada Aku yang harus mereka cintai lebih dulu."
Sisa-sisa makna kali itu hanya menjadi kisah yang ditumpuk menjadi kenangan
Ketika waktu pun enggan menentukan dan memberi tahu
Biar kejutan kecil Tuhan yang menjadikannya nyata
Bila tak saling jumpa tak apa, aku masih bisa menyentuh sukmamu
Begitu sama nasibnya ketika serdadu rindu membelenggu aku dan kamu
Tuhan hanya bisa tersenyum
"Aku menguji mereka untuk saling percaya dan berdoa"
Bila mereka tak lupa dibalik kasih serta cinta yang menjadikannya rindu, "ada Aku yang harus mereka cintai lebih dulu."
Tuesday, 23 December 2014
RESENSI FILM
Judul : Pendekar Tongkat Emas
Sutradara : Ifa Isfansyah
Produser : Mira Lesmana, Riri Riza
Penulis Naskah : Jujur Prananto
Pemain : Christine Hakim, Nicholas Saputra, Reza Rahadian,
Eva Celia, Tara Basro, Aria Kusumah, Landung Simatupang, Whani Darmawan, Slamet
Rahardjo, Darius Sinathrya, Prisia Nasution
Genre : Aksi (action)
Lima hari setelah premiere
Pendekar Tongkat Emas, saya pun menyaksikan film yang akhirnya ga melulu bahas
percintaan ataupun bergenre horor sama sekali meskipun back sound dari film ini benar-benar buat saya tegang apalagi
ditiap adegan petarungan. Awalnya, memang saya tidak begitu tertarik dengan
film yang terdengar dari judulnya agak jadul gimana gitu ya, tapi jujur kali
ini saya akan membahas butir-butir kelebihan pada film ini.
Film dibuka dengan narasi suara
teduh khas Christine Hakim yang langsung membuat hati merenung karena kedalaman
filosofinya. Setelah itu, mata akan dimanjakan oleh alam Sumba Timur yang sungguh
luar biasa indah. Pendekar Tongkat Emas
ini berkisah tentang Cempaka, Sang Pendekar Sakti pewaris terakhir ilmu jurus
Tongkat Emas Melingkar Bumi yang berencana menurunkan ilmunya kepada salah satu
muridnya. Namun, sebelum ia berhasil menurunkan ilmunya, Cempaka tewas
terbunuh. Lalu, apa konflik setelahnya? Nonton sendiri ya filmnya.. saya tidak
mau spoiler :D
Menurut saya, semua pemain
menyatu dalam film ini. Banyaknya pemain papan atas semakin membuat film ini
memberi kesan yang begitu “wah”. Semua tidak saling menonjolkan diri tapi
terasa pas dalam satu film.
Baru kali ini mata saya
dimanjakan sepanjang film berlangsung. Selain lokasi film yang cantik nan indah, tata suara yang tepat tiap momennya hingga quote-quote inspiratif
menghiasi film ini. Ga heran sih, ada Seno Gumira Atmaja masuk sebagai salah
satu penulis skripnya. Salah satu kutipan yang saya ingat “Sanggupkah menahan
diri untuk tidak menang karena sesungguhnya tidak ada kemenangan dalam ilmu
apapun ketika kemenangan selalu menjatuhkan korban.”

Ada banyak hal yang dapat saya
petik dari film berdurasi 112 menit ini. Ada nilai kesetiaan memegang janji dan
menepati konsekuensi apabila melanggarnya. Ada nilai kerja keras dan semangat
tak menyerah yang harus terus dikobarkan demi mencapai cita-cita. Dan juga,
film ini mengajarkan betapa kepentingan orang banyak harus didahulukan di atas
kepentingan diri sendiri. Sungguh, saya menyukai film ini. Sudah semakin jarang
film bagus yang mengusung nilai-nilai edukasi bagi yang menontonnya. Ada scene romantisnya
memang, namun ga konsen ke arahsana melainkan konsisten mengeksplore tetap pada
sisi action-nya.
Oh iya, saya harus mengapresiasi
akting Tara Basro yang totalitas banget pada aktingnya. Sangat menjiwai! Saya
terbawa suasana dan sampe sebel liat dia yang terkesan licik. Tapi saya sadar, akting yang baik itu
yang membuat penonton melibatkan emosinya, bukan?
Saturday, 20 December 2014
renungan menjelang akhir tahun
- ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya... - Al Baqarah: 286
Tidak ada satu orang pun di dunia yang tidak menginginkan
kehidupannya ke arah lebih baik. Dari segi pendidikan, karir, maupun hubungan sosial.
Apa kalian
pernah merasa gagal dalam ketiga hal tsb? Tentu satu dari ketiganya bahkan hal
lain kita semua pernah mengalami kegagalan. Dengan begitu, kita sudah siap
untuk melangkah lebih maju apabila kita pernah merasakan jatuh atau kecewa.
Seharusnya memang, kegagalan tidak membuat kita pesimis untuk berani berharap
serta membentuk perubahan atau istilah jaman sekarangnya “move on”.
Sebagai
seorang perempuan, terkadang kita dipengaruhi oleh rasa segan; ketakutan; over thinking sebelum bertindak. Ambil
contoh dalam menempuh pendidikan, setinggi apapun jenjangnya harus kita yakini
bahwa bidang yang kita jalani tidaklah berat, tetapi dimana ada kemauan disana
ada jalan. Berkomit-lah, meskipun adanya rasa kemauan yang terkadang
terhalang oleh berbagai alasan yang kita anggap sebagai pembatas antara harapan
dan keinginan.
Untuk itu, dalam memenuhi apa
yang kita harapkan agar tercapai tentu kita perlu memiliki strategi, bukan?
- Target
Kita harus
membuat keinginan dan target-target kita menjadi semakin detail dengan
memberikan target waktu. Sekali lagi, buatlah target-target itu spesifik,
terukur, dan dapat dijalankan. Jangan terlalu menyimpang dari target masa
depan kita yang sebelumnya pernah kita tentukan.
- Ambisi
Apabila kita
sudah menanamkan apa yang kita inginkan melalui hati dan keyakinan kita maka
bagaimanapun kondisi, keadaannya akan mampu menggerakan nurani kita untuk
melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
- Hubungan dengan Tuhan
Kunci utama
menjalani kehidupan adalah seberapa besar kedekatan kita kepada Sang Pencipta.
Dimanapun kita, ingatlah bahwa yang kita kerjakan adalah bukti betapa dekatnya
kita dengan Tuhan.
- Support
Makhluk sosial
seperti kita ini hidup untuk saling membutuhkan (tolong menolong) maka,
seindividual seseorang pun ia perlu pendukung dari orang lain. Dukungan baik
moril dan materiil merupakan bentuk bahwa kita hidup untuk; karena orang lain.
Berusahalah untuk mendapatkan supporter terbaik kamu, seseorang yang mampu
memberimu kenyamanan tidak akan menunda kamu melakukan hal baik untuk kedepan.
- Introspeksi
Sekeras apapun
keinginan kita tetapi tidak adanya kesadaran bahwa kita harus memahami seberapa
kuat atau mampu kita, sebelum kamu meminta orang lain menghargai kerja kerasmu,
sebaiknya kita lebih dulu menghargai jerih payah kita dalam melewati step by step kehidupan.
- Do
Setelah
menerapkan keempat hal diatas, mari menerapkan prinsip “KERJAKAN APA YANG SAYA TULIS, TULIS APA YANG SAYA KERJAKAN”
maksudnya begini, rencana baik visi dan misi kehidupan sepantasnya kita tulis
dalam selembar kertas sebagai reminder apa
yang seharusnya hari ini kita kerjakan lalu, sebagai obat lupa baiknya kita
menuliskan apa yang sudah kita lakukan hari ini.
-
Anda tidak
akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda bersikeras untuk mempertahankan
cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru. –
Mario Teguh
Sunday, 30 November 2014
Resensi
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit : April 2002
Cetakan ketiga, Maret 2004
Jumlah
hlm : 616
ISBN : 979-9023-72-6
Bisa
dikatakan novel ini merupakan novel fiksi yang menyentil persoalan masa orde
baru. Kebusukan-kebusukan oknum tertentu direfleksikan dengan tokoh Oom Sam sebagai
biangkerok dari seluruh masalah yang berkomplot dengan adiknya sendiri yang
memiliki kedudukan penting di kepolisian, SSS. Sedangkan Myrna sebagai tokoh
utama hampir membuat saya putus asa karena kepolosannya. Meski pandai berbijak
diri, Myrna nyatanya tidak kunjung dapat melakukan hal yang berpengaruh sampai
akhir kisahnya.
Banyaknya pengetahuan lagu-lagu standar oleh Myrna dan Luc, juga syair-syair yang dihapalkan di luar kepala oleh Dela, membangun suasana khas dari novel ini. Tiap tokoh digambarkan begitu berkarakter dan kompleks hidupnya. Namun sayang, beberapa tokoh yang ‘dimatikan’ begitu saja membuat cerita terkesan klise.
Penggunaan bahasa daerah; Jawa, Sunda, dan Bali, disamping bahasa Inggris membuat pembaca harus membaca dua kali untuk memahaminya, namun saya rasa penulis cukup berperan dalam membantu melestarikan bahasa daerah.
Oh ya, tadinya dari judul novel ini, saya sempat mengira bahwa akan terasa kental bahasan agamisnya, tetapi tidak sama sekali. Penulis sama sekali tidak menyentil urusan kepercayaan menyeluruh, namun memang sedikit menuangkan pikiran ketidaktepatan kepercayaan atheis.
Thursday, 23 October 2014
.
Sepertinya…
Kita
akan baik-baik saja
Kau
dan aku saling percaya
Dusta
pun tak ada
Sepertinya…
Semua
tentang kita akan baik-baik saja
Kau
dan aku tak pernah lupa
Pertemuan
pertama kita
Sepertinya…
Mereka
ikut merasa
Mereka
dapat menduga
Kau
dan aku bahagia
Sepertinya…
Ra





