Sunday, 18 August 2013

Setengah angan sudah tiba di kampung



“Neng.. bangun  neng, dipanggil Ibu” suara bi ebah terdengar di balik pintu kamar Ismi. Gadis berumur 13 tahun berdarah sunda betawi itu masih terlihat sedang memanfaatkan waktu tidurnya setelah sahur pagi tadi.
Sambil mengulet, perlahan dua matanya terbuka untuk meyakinkan apakah matahari sudah benar-benar berada di atas kepalanya. “Ya Allah… Ismi mimpi, Biiii. Iya, iya nanti Ismi turun bi tolong bilang Ibuuu” Dengan nada keras ia berharap bi ebah mendengar suara teriakannya itu.
Bergegas menuju kamar mandi yang berada di sudut kamarnya, ia pun bercermin lalu mencuci muka hingga beberapa menit ia sudah merasa lebih segar dan tidak lagi melihat wajah yang masih mengantuk seperti saat bangun sahur tadi.
Kurang lebih setengah jam ia di dalam kamar memikirkan apa yang ia mimpikan begitu teramat nyata, panas. “Untung dibangunin bi ebah, kalo engga Ismi ga tau segerah apa di dalam mimpi tadi” ucap Ismi dalam hati. Setelah bolak balik kamar mandi untuk bercermin bahwa dirinya baik-baik saja, ia menenangkan dirinya untuk bercerita kepada Ibu tanpa rasa panik.
“Bu, bu…” melangkah menuruni anak tangga, Ismi menghampiri Ibunya yang sedang fokus menatap layar handphone. “Bu, Ismi mau cerita Ismi mimpi deh bu.”
“Sebentar-sebentar nak, Ibu lagi jawab pesanan teman Ibu” mendengar nada serius yang ditunjukkan Ibu, Ismi pun menuju ke halaman belakang menemui bi ebah. Seorang pembantu rumah tangga yang memang sudah beberapa tahun belakangan membantu keluarga mereka dalam mengurus kebersihan dan keperluan rumah.
Melihat bi ebah yang sedang menyapu daunan berserakan di bawah pohon, Ismi duduk sambil merenungi betapa teduhnya halaman rumah mereka. “Neng, kunaon bengong?” tegur bi ebah.
“ehehe engga bi, ehiya bi kita hari ini buat kue apa? Ibu udah ngadon?” istilah yang dipakai Ismi untuk menyebut adonan yang akan mereka olah di setiap loyangnya lalu masuk ke oven hingga di tata ke dalam toples dan berakhir di mulut serta perut penikmat kue-kue khas lebaran.
“Tadi teh Ibu udah buat itu ada di kulkas neng, mau bibi keluarkan bibi teh malah ke atas bangunin eneng.”
“Oh gitu bi, yaudah biar Ismi aja yang keluarin biar ga keras kan?” tanyanya pada bibi.
“Iya neng, tadi Ibu manggil eneng biar mulai ngerjain itu tapi teh bibi belum selesai bersih-bersihnya.” Dengan logat sundanya bi ebah menjelaskan.
Memang baru kemarin Ismi belajar menggiling serta mencetak adonan kue putri salju. Dan hari ini Ibu berniat menyelesaikan pesanan kue nastar yang memang paling banyak diminati oleh pelanggan tiap tahunnya.
Ismi pun mengangkat meja berbentuk persegi yang terbuat dari kayu, mengelap beberapa loyang yang berjejer rapi bersampingan dengan oven yang berukuran cukup besar. Mengambil perlengkapan giling dan cetak serta tepung terigu untuk alas adonan agar tidak lengket dengan meja saat proses cetak.
Ibu membiarkan Ismi memulai pekerjaannya sendiri hingga ia bertanya sesuatu yang belum benar-benar ia pahami. Melihat cetakannya berbeda, Ismi pun menghampiri Ibunya. “Bu, masih sibuk?”
“Sudah nak, ini sudah selesai.” Berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan lalu duduk di atas tikar berhadapan dengan anak perempuannya. Dengan kelembutan seorang Ibu, Ismi pun menyimak banyak aturan-aturan yang harus ia lakukan beberapa jam ke depan.
Mengambil sedikit demi sedikit adonan yang di lihat kasat mata tidak begitu banyak namun terlihat cukup padat sehingga untuk diselesaikan dalam 3 jam pun tidak akan selesai. “Bi, lihat ini deh Ismi udah bulet-buletin segitu banyak masa adonannya ga abis-abis” keluhnya sesaat sebelum ia memutuskan untuk beristirahat sebentar lalu sholat zuhur.
***
Sekembalinya Ismi ke bagasi belakang rumah yang memang sengaja digunakan untuk kesibukkan membuat kue tak terlihat sang Ibu ataupun bi ebah disana. Terdengar bunyi oven *teeet* tanda menit yang ditentukan oleh Ibu berlalu, dan sesegera mungkin dua buah loyang yang berada di dalam oven dikeluarkan agar tidak terpanggang terlalu lama. Dengan sarung tangan khusus, ini pertama kali Ismi memberanikan diri menyentuh oven dalam keadaan suhu masih panas.
Setelah berhasil memindahkan kedua loyang dari dalam oven, ia kembali mencetak adonan yang masih tersisa untuk di bulat-bulatkan hingga di cetak menggunakan cetakan kerang. Beberapa menit ia melakukan pekerjaan itu sendiri, bi ebah menyusul duduk berjarak setengah meter dari Ismi.
“Ibu sholat ya bi?” tanya Ismi kepada bi ebah.
“Iya neng, bibi juga abis sholat terus rebahan sebentar” jawabnya.
“Kalo ngantuk tidur aja lagi bi, ini kan tinggal dioles masuk ke oven lagi nunggu Ibu” saran Ismi.
“Ga enak atuh neng sama Ibu” dengan nada merendah, tangannya sibuk membulat-bulatkan adonan.
                                                                        ***
            Tiba-tiba saja lantunan lagu terdengar dari mulut bi ebah, suara khasnya menyanyikan sebuah lagu berbahasa jawa.
“Bibi suka nyanyi ya? Tanya Ismi dengan penuh rasa penasaran di dalam dirinya.
Entah itu bahasa jawa atau sunda yang dinyanyikan bibi, yang Ismi tau bi ebah merupakan orang sunda, sama seperti Ibu. Mereka saling berbicara menggunakan bahasa sunda dalam berkomunikasi di rumah. Ismi pun hanya dapat mendengarkan tanpa mengerti benar-benar apa arti percakapan mereka.
“Bah… tolong keju bola di parut, bah” teriak Ibu dari dalam memberi tugas untuk bibi.
“Kayak biasa bu?” tanyanya lagu.
“Iya atuh bah, potong 4 dulu.. nanti di taker sama maneh pake timbangan ada di deket kulkas ibu taro abis nimbang buat bahan adonan tadi pagi” jelas Ibu.
Selesai Ibu memberi perintah kepada bibi, Ibu menyiapkan beberapa kuning telur untuk mengoles kue nastar yang sudah setengah matang. Dan Ismi pun kembali diajarkan cara mengoles dengan sangat telaten. “Jangan berceceran ya neng…” ledek Ibu.
Dengan sangat hati-hati dan serius Ismi menyelesaikan satu persatu kue nastar yang berada di dalam loyang. Sedangkan Ibu, sibuk menyelesaikan adonan bulat menjadi nastar kerang hingga memasukkannya ke dalam oven sesuai suhu yang ditentukan.
            Hingga tak terasa waktu berjalan seakan dua kali lipat. Ismi sudah kembali mendengar suara panggilan sholat, azan ashar berkumandang dari masjid terdekat rumahnya. Ibu menyuruh Ismi menyudahi polesan kue dan lekas melaksanakan sholat. “Bah..lagi ngapain maneh teh? Gantian sholat ya bah.” Ucap Ibu.
                                                                        ***
            Serapinya pekerjaan bi ebah mengurus pakaian yang sempat ia cuci pagi tadi, ia menyibukkan diri di dapur menyiapkan bahan masakan untuk menu berbuka sore itu.
“Udah sholat bi?” tanya Ismi.
“Udah neng, pinter si eneng Ismi teh cepet udah mau selesai aja bantuinnya.” Puji bibi.
“Emang biasanya lebih lama dari ini ya bi?” pertanyaan Ismi kepotong tak terjawab mendengar perintah Ibu yang menyuruh Ismi menyusun kue putri salju yang masih seloyang lagi untuk di masukkan ke dalam toples.
“Bah.. gula na saek iye?” tanya Ibu menghampiri bi ebah ke arah dapur.
“teu saek bu, ebah taruh di lemari kaca” jawab bibi.
Ismi pun berjalan mengambil keperluan yang ia butuhkan termasuk kardus berisi toples yang setiap kardusnya berjumlah selusin.
“Ditebelin mih bedaknya kurang medok” Ibu mengomentari toples kue putri salju yang sudah terisi terlihat agak kosong.
Terdengar suara tawa bi ebah dari arah dapur membuat Ismi ikut menertawai ucapan Ibunya. “Si ibu aya-aya wae neng yeu” sambil membawa bumbu di tangan untuk di laporkan kepada nyonya besar.
“Bu, segini cukup enteu?” bi ebah melempar tanya.
“Bu, kemedokan ga nih? Ismi menambahkan.
            Setelah menjawab pertanyaan mereka, Ibu kembali memulai memasak makanan berbuka. Menu sore itu kangkung udang dan tahu goreng tepung. “Keburu bu.. jangan buru-buru nanti teh kena minyak panas”
Mendengar kata-kata panas itu, Ismi teringat mimpinya. Ia lupa menceritakan pada Ibunya kejadian yang terlwati melalui tidurnya. “Ah, sudahlah mi hanya mimpi” ucap kata hati Ismi.
“Bu, tadi kok zuhur ga ada khutbah bu? Tanya lugu bibi selalu menjadi perhatian oleh Ismi. Ia menyimak percakapan yang dibuat oleh bi ebah dengan Ibunya.
“Ebah teh kumaha, hari ini keun kamis. Kamu pikir jum’at” perjelas Ibu.
Sambil menahan tawa, wajah Ismi yang sedang terbingung dan lelahnya menyimpulkan senyum.
“Oiya ya, kamis sekarang ebah pikir teh jum’at bu…” logat sunda bi ebah masih teramat kental.
“Begitu tuh kamu, badannya disini.. pikiran kamu udah dikampung aja bah, bah.” Ledek Ibu.
“Ciyeee bi ebah udah mau cepet-cepet pulang aja ya bu, nanti kita kesepian ga ada yang nyanyi-nyanyi lagi” Ismi menambahkan hingga percakapan semakin hangat.
“Bibi teh sebenernya engga tega eneng, ninggalin ibu lagi sibuk-sibuknya begini pesanan belum selesai semua.. tapi teh kumaha ebah harus pulang anak-anak bibi udah pada nungguin” jawab bibi dengan sedikit rasa prihatin.
“Biarin, jatah thr bibi ibu potong mih biar pulangnya nanti-nantian” nada canda Ibu melontarkan tawa kepada Ismi.
“Haha iya bu, bi ebah juga biasa pulang seminggu sebelum lebaran ini masih dua minggu loh bii” rayu Ismi.
“Aduh eneng, anak-anak bibi 6 bulan belum bibi datangi lagi udah minta ini itu bibi juga kan punya kewajiban neng di kampung. Suami bibi balik lagi sama istrinya neng, gak apa apa bibi urus bukan anak kandung juga yang penting ke urus..” tegasnya.
Mendengar alasan yang diucap oleh bi ebah membuat Ismi tak lagi berniat untuk menahan kepulangan bibi yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri “Hehehe bi ebah, Ismi bercanda bi.. nanti hati-hati ya bi pulangnya. Ismi bawain cokelat deh buat anak-anak bibi..”
“Naon eneng, teu usa ngerepotin. Udah dibawain kue empat leker sama Ibu” tolak bi ebah.
“Yah bibi, kan beda lagi dari Ismi sama dari Ibu.” Ismi terus menawari memberikan cokelat yang dijual temannya menjelang lebaran seperti sekarang.
Di tengah perbincangan mereka, terdengar suara azan magrib menandakan buka puasa untuk daerah jakarta dan sekitarnya.
“Bah…maneh lupa seduh minum keasikan ngobrol, kumaha” tegur Ibu.
Bi ebah pun bergegas menuang air panas ke dalam gelas yang sudah terisi gula dan teh, memindahkan tahu yang sudah di goreng oleh Ibu agar dapat mereka santap bersama.
Ismi membawakan air putih untuk membatalkan puasa sore itu. “Bah.. batalin dulu bah, jatohnya puasa kamu haram kalo denger azan ga langsung maneh batalin” nasihat Ibu kepada bibi.
Setelah menutup azan dengan membaca doa sesudah azan dan membaca niat berbuka puasa, mereka terlihat asik menyicip gorengan serta beberapa kue nastar yang sudah matang. Sesaat berbuka, Ismi pun memberikan setoples cokelet putih kepada bi ebah untuk dibawanya mudik nanti.
“Enak teu bah?” tanya Ibu.
“Ga pernah ga enak bu masakan ibu” puji bibi sambil menikmati cokelat yang diberikan Ismi.
“Naon bah? Ibu masak cokelat?”
                                                                        ^_^
#LATEPOST

Saturday, 15 June 2013

Membakar Hujan


Rintikan hujan kembali membuka pagi ini, pagi yang dingin dengan mimpi yang masih hangat semalam. Secangkir susu hangat dan tumpukan roti berlapis keju sudah berada di atas meja makan. Aku membawanya ke teras depan agar dapat melihat jelas suasana hujan di luar, mataku tertuju pada koran yang seakan meminta untuk dibaca, koran harian lalu yang untuk sebagian orang mungkin tidak lagi hangat.


Berita yang akan selalu ada di musim penghujan ini masih tentang banjir, membahas beberapa wilayah Indonesia yang terendam banjir terutama Ibukota Jakarta. Bencana atas ulah manusia dan berdampak pula pada mereka. Di jakarta bagian pusat dan juga titik-titik yang setiap tahunnya rawan banjir harus merasakan hal serupa lagi. Setelah membaca beberapa halaman, aku pun melipat kembali koran sambil menyeruput susu yang hangatnya sudah mulai menghilang. Lamunanku berhenti pada mimpi tadi malam, bagaimana bisa aku memimpikan payungku? Payung lipat bercorak dan berwarna klasik itu berada di tangan seseorang yang tidak aku kenal. “Wajar.. satu buah payung kan ga cuma dimiliki satu orang, mimpi memang terkadang sesuatu yang tidak penting seakan menjadi sangat penting”, ucapku terlintas dan membiarkan mimpi itu keluar dari mimpiku.

Pada dasarnya, aku sangat tidak menyukai sesuatu yang merepotkanku. Membawa payung dalam tas kemanapun aku pergi, hanya saja karena ibu menyuruhku agar berjaga-jaga jika hujan datang tiba-tiba dan aku membutuhkan payung itu. “sedia payung sebelum hujan, nak” begitu ibu berpesan. Aku pun menuruti nasihat ibu. Sebuah payung pemberiannya tidak pernah aku keluarkan dari tas pergiku.

Suatu hari, aku lupa memindahkan payung ketika aku berniat untuk mengganti tas kuliah hari itu. Walaupun hujan cukup deras, aku diantar oleh ayah sehingga aku pikir aku tidak membutuhkan payung lipat dalam tasku. Dari dalam mobil aku sungguh menikmati pemandangan dibawah hujan turun, payung-payung terbuka lebar meneduhkan mereka yang tidak ingin pakaian rapi mereka dibasahi air hujan lalu merusak penampilan mereka.

          Mataku tertuju pada anak laki-laki seusia adikku, umurnya terlihat kasat mata antara 10 hingga 12 tahun. Dia berdiri di depan toko yang masih tutup, tepat di pinggir jalan itu terdapat sebuah pasar dan juga sekolah membuat banyak orang berlalu lalang menyebrangi jalan tersebut. Dengan wajahnya yang polos, tidak memperlihatkan beban di wajahnya. Senyumnya kesetiap orang yang ia tawari jasa payungnya. Hanya sebuah payung di tangannya tanpa ada payung lain di tangan sebelahnya.

          Rasa teramat penasaranku tidak lagi dapat ku bendung. Di kemacetan pagi itu, tepat lampu merah memberhentikan kendaraan-kendaraan menuju kawasan depok. Beberapa angkutan umum sedang menunggu penumpang di koridor kiri jalan. Perhatianku masih ke arah anak kecil berwajah lugu. Beberapa detik lampu lalu lintas berganti menjadi warna kuning, kemudian lampu hijau membuat mobil yang dikendarai ayah mulai kembali melaju. Aku pun hanya dapat sebatas berharap agar esok aku melihatnya lagi seperti pagi ini.

***

“Kak, payungnya kak?” suara itu perlahan menyentuh telingaku.

“Kakak bukan mau nyebrang de.. lagi nunggu teman kakak” jawabku.

Dengan raut wajah yang terlihat sedikit kecewa ia berjalan melewati arahku, aku berniat untuk mengejarnya.

“dek, dek.. kakak boleh ngobrol sebentar ga? Temenin kakak nunggu teman kakak ya?”

“tapi kak,..” ketika ia menjawab pertanyaanku, aku merangkul pundak kecilnya yang setinggi bahuku.

“kita ngobrol disini aja dek” tepat di depan toko kue aku pun menawarkannya, “kakak tadi di rumah belum sempat sarapan nih dek, kamu mau yang mana?” menunjuk beberapa dagangan seorang ibu dari luar kaca jendela toko.

“kakak mau beliin aku? Jawabnya lugu.

“iya, mau yang mana? Kakak yang ini aja ah” sambil menunggu si ibu membungkusnya, ia menyusul pesananku. “aku juga mau yang itu deh kak”

“oh yauda, yang itunya dua bungkus lagi ya bu.” Ucapku pada ibu penjual kue.

“nih, ini dua-duanya buat kamu. Di simpan untuk nanti kalau kamu laper lagi” begitu pesanku.

Bungkusan kue yang berisi risol dan onde-onde diikatnya di pergelangan tangannya. “terima kasih ya kak”

“sama-sama dek, di makan dong. Eh iya kamu rumahnya dimana sih? Mencoba untuk membuka obrolanku pada dia yang aku sebut si anak payung teduh.

Berbagai perbincangan kami bertanya jawab dan akhirnya aku sedikit mengetahui latar belakang dirinya yang ternyata ia bernama hanif. Kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai penyapu jalan raya penghubung kota Bogor, Depok dan Jakarta. Ia memiliki satu kakak laki-laki yang masih dapat berjuang menempuh pendidikan formal hingga SMA. Sedangkan ia terpaksa bersekolah di sekolah terbuka bersama anak-anak jalan yang lain.

Melalui hanif, aku mempelajari perjuangan seorang anak terhadap dirinya dan keluarganya. Beban yang harus ia tanggung adalah menahan keinginan untuk bersekolah seperti kakaknya dan tetap membantu orang tua mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Walau dengan begitu, ia masih mampu menunjukkan pada semua orang kalau ia bekerja tanpa beban. Penuh suka cita dan memunafikkan perasaannya ke setiap mata yang memandangnya hanya seorang anak yang tidak memiliki masa depan.

Sinyal terkuat dari harapan seorang anak kecil adalah bola matanya. Harapan itu ada pada dua bola mata hanif, harapan dapat membantu sesama dan tetap berjuang demi kedua orang tuanya. Dibawah hujan sederas apapun, hanif membiarkan tubuh kecilnya menahan dingin untuk mereka yang menanti kedatangannya mengantar sebuah payung. Hanif bagai pahlawan pagi bagi mereka yang membutuhkan jasa seorang ojeg payung.

“Teman kakak ga datang-datang kak?” tanyanya khawatir.

“Iya nih nif, kakak naik angkutan umum aja deh. Kamu hati-hati ya, besok kita ketemu lagi.” Sapa terakhirku pada hanif.

“Aku antar kak, ini masih gerimis” gegas hanif ingin mengejarku.

“Gausa nif..” dengan jalan terburu-buru aku melambaikan tangan pada si kecil pahlawan payung itu.

***

 

Selang beberapa hari aku tak sempat menemui hanif, pagi ini aku berniat untuk melepas payung lipat kesayanganku pada hanif.

“Nif, pasti kamu butuh ini kan?” tanyaku dengan melempar senyum padanya.

“Ini payung kakak?” ia kembali bertanya.

“Iya nif, aku titip di kamu ya. Bisa kamu pakai kalau-kalau orang yang kamu antar lebih dari satu orang sekaligus, kamu ga perlu lagi menutupi kepala kamu dengan plastik lagi..” jawabku penuh ceria agar membangkitkan gairah semangatnya.

“Kakak baik sama hanif, hanif ga bisa kasih kakak apa-apa” balasnya seakan haru.

“Aduh hanif, ga usah dipikirin. Kamu kan udah lebih berbuat baik banyak ke semua orang yang selama ini kamu bantu. Kakak cuma baru bisa bantu ini ke kamu. Terima ya?” bujukku penuh hangat.

“Terima kasih ya, kak. Sore ini kakak mau ikut ke sekolah aku ga melihat keadaan disekolahku?  Tanyanya dengan pengharapan.

“Wah.. boleh tuh, jam berapa nif? Aku balas dengan sedikit rasa penasaranku.

***

Sepulang aktivitas kuliahku, aku kembali bertemu hanif di ujung jembatan pasar palapa. Ia terlihat membawa tumpukan plastik yang biasa ia tawarkan pada ibu-ibu yang selesai berbelanja. Meskipun lelah, ia tidak benar-benar menunjukkan beban lelah itu padaku, pada mereka teman-teman disekitarnya.

“Kak, sekolahku disini.” Sambil berjalan, ia mengarahkan tangan dan matanya pada tempat yang biasa ia habiskan untuk menambah ilmu pengetahuan dari para pejuang berjiwa sosial tinggi. Pemuda-pemudi yang dapat membagi waktu serta wawasannya pada mereka anak-anak yang butuh perlindungan dan perhatian lebih negara.

Setelah aku menyempatkan diri berkunjung ke tempat dimana sebelumnya tidak pernah aku temui, rasa empatiku begitu besar pada mereka terutama hanif. Jiwa sosial itu semakin meninggi. Aku berencana untuk mengajak beberapa teman untuk membantu pendidikan mereka dengan berbagi berbagai macam buku serta waktu senggang kami sebagai mahasiswa. Dengan cuaca mendung, hujan, panas sekalipun, kita dapat membakar jiwa-jiwa keterpurukan yang ada dalam diri kita.

SELESAI

Wednesday, 5 June 2013

silent and keep writing~

Muak! satu kata yang tergelincir di pikiran tiap kali liat manusia yang selalu merasa dirinya sempurna. bener ga?

menjudge orang lain tanpa mau bercermin itu namanya apa sih?

iri, dengki, syirik? entah lah

setiap orang ke orang pasti punya kekurangan dan kelebihan masing-masing ders, kita berhak kok menilai orang lain seburuk ataupun sebaik apapun. tapi.. tau etika, tau tempat dan tau dampak dari apa yang kalian ungkapkan. apalagi di public, social media sekalipun orang-orang di dalamnya punya pandangan sendiri-sendiri untuk menilai apa yang mereka liat dan mereka baca.

semua orang punya privacynya masing-masing tanpa harus kalian nyinyir, nyindir, celenahan yang cuma kalian tunjukkan kalau kalian ga dapat merasakan privacy yang sama. sabar ya :)

Tuesday, 28 May 2013

Katakan ‘Tidak’ untuk menunda


Mata kulaih : Penulisan II 
Argumentasi
Dosen         : Nova Darmanto

            Disiplin waktu. Hampir semua orang paham dengan arti disiplin pada waktu. Namun, masalahnya tidak semua orang mengerti bagaimana cara mendisiplinkan waktu mereka. Banyak hal yang membuat orang-orang lebih memilih menunda pekerjaan dibanding untuk bertindak mengerjakan. Mengapa demikian? Sikap seseorang yang bermalas-malasan dan menolak untuk melakukan tugasnya saat itu juga adalah disebut menunda.
            Kemalasan wujud dari pola pikir , sebuah kebiasaan. Sebuah kebiasaan dikembangkan ketika seseorang melakukan sesuatu secara konsisten. Alasan utama dari kemalasan adalah kurangnya tujuan yang jelas dalam hidup. Tanpa tujuan yang jelas, maka menjadi tidak termotivasi dan itu sebabnya kita menunda. Perhatikan orang-orang yang termotivasi selalu memiliki fokus dan aura menjanjikan di setiap langkah-langkahnya. Di sisi lain, orang tanpa tujuan dan kekurangan motivasi akan menjadi malas. Ketika malas, maka akan menjadi para penunda.
Pastinya, pada saat-saat tertentu ada perasaan bersalah karena telah menunda  suatu kegiatan apapun. Ada masa dimana sebuah kata menunggu “waktu yang tepat” menjadi alasan yang seakan-akan tepat untuk mereka berikan. Menginginkan hal yang sempurna sehingga seseorang rela menghabiskan begitu lebih banyak waktu untuk mempersiapkan pekerjaan tersebut sampai-sampai tidak sadar telah merugikan atau membiarkan waktu yang seharusnya dapat dipergunakan untuk pekerjaan lain. Seseorang yang selalu ingin dinilai sempurna oleh orang lain sebenarnya sering kali membuat tugas mereka kelihatan lebih sulit dari seharusnya.
Sebaliknya, sebagian orang bermasalah dengan berbagai macam pekerjaan yang membuat hari-hari mereka dipenuhi berbagai banyak aktivitas dalam waktu ke waktu. Tidak yakin dengan apa yang harus dikerjakan karena tidak tahu harus darimana memulai. Dengan begitu banyak pekerjaan, waktu yang tersedia terlalu sedikit. Jika menghabiskan delapan jam sehari untuk tidur dan delapan jam di kampus, maka kita hanya memiliki waktu tersisa delapan jam untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan yang dimiliki setiap harinya. Dan semua itu tidak dapat terlaksana bila menunda menyelesaikan salah satu pekerjaan. Tidak heran bahwa beberapa orang berkata mereka tidak punya waktu.
Terkadang, ketika seseorang bersikap menunda mengerjakan suatu pekerjaan, pekerjaan tersebut akan diselesaikan oleh orang lain yang merasakan keharusan ataupun kebutuhan untuk menyelesaikan. Strategi untuk mematahkan sikap menunda ini adalah dengan belajar bagaimana menghormati kepentingan orang lain. Berpikir pertimbangan konsekuensi maka akan menyadari dan menghargai tindakan orang lain yang memang harus dipertanggung jawabkan.
Mengerti bahwa seorang guru berdedikasi baik terhadap muridnya. Mengerti bahwa ketika guru memberikan tugas dan pekerjaan, mereka harus menandai semua pekerjaan anak muridnya, sedangkan kita hanya perlu menyelesaikannya sekali. Mengerti bahwa seringkali seorang teman menjadi orang yang akan berada bersama untuk memberi dukungan moral. Jangan lupa untuk menghargai diri kita sendiri sama baiknya sama seperti orang lain yang layak mendapat rasa hormat dan dihargai tanpa diberikan secara cuma-cuma. Dengan pola pikir yang benar, kita akan lebih mudah mengatasi pekerjaan apapun yang datang dan dapat mengatasi masalah penundaan.
Hal lain, ketika seseorang tidak yakin dengan beban pekerjaan maka cenderung kembali menunda. Mengembangkan perasaan sulit. Perasaan semacam itulah yang menyebabkan seseorang menunda. Cobalah untuk menciptakan afirmasi yaitu pernyataan pendek yang positif yang akan memberi motivasi besar pada diri sendiri. Biarkan afirmasi-afirmasi menguatkanmu. Mengakui alasan-alasan mengapa seseorang khawatir dan mau menghilangkannya itu lebih penting dari terus menerus mengkhawatirkan.
Masalah lain, ketika seseorang merasa lelah dengan pekerjaan yang dapat dilakukan adalah berhenti untuk sementara. Dibutuhkan istirahat. Tidur nyenyak selama 15 sampai 30 menit sudah membuat pikiran berada pada istirahat total dan dibersihkan dari pikiran-pikiran yang mengganggu tentang pekerjaan ataupun masalah yang membebankan. Jika memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan esok hari, beritahu orang disekitar bahwa pekerjaan tersebut harus diselesaikan esok hari bahkan lebih cepat. Dengan demikian, mengatakan pada semua orang  mengenai keinginan maka menempatkan diri sendiri dalam posisi siap menunjukkan. Sebuah janji telah dibuat dan perlu ditepati. Hal ini yang akan memberi motivasi cukup untuk memulai dan menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Seseorang menunda karena berpikir selalu ada waktu untuk mengerjakan sebuah pekerjaan. Tetapi apa yang terjadi bila menunggu di detik-detik terakhir sebelum memulai pekerjaan itu lebih cenderung terburu-buru dalam pekerjaan atau dalam situasi terburuk, kehabisan waktu dan tidak dapat menyelesaikan. Dengan kalender mundur dan pola pikir yang membuat seseorang dapat melihat konsekuensi tindakan mereka. Alasan-alasan dapat bersifat nyaman yang membuat menunda menyelesaikan pekerjaan. Alasan ada dimana-mana dan sangat mudah diciptakan, tetapi tidak berarti harus digunakan sebagai alasan untuk menunda.
Mengapa ada orang yang dapat menangani begitu banyak pekerjaan dan menyelesaikan pada waktunya, sedangkan ada pula orang lain kewalahan oleh tugas yang termudah sekalipun? Jawabannya ada pada kemampuan mengelola waktu masing-masing dari mereka. Banyak orang merasa bahwa waktu selalu meluncur pergi dan tidak dapat dikendalikan. Orang-orang yang dikendalikan oleh waktu. Jika dapat mengelola waktu dengan baik, maka pasti dapat mengendalikannya.
Prinsip pokok komitmen adalah terus menerus memperbaiki diri. Ketika seseorang berkomitmen, maka ia yakin bahwa ia memiliki keinginan untuk menyelesaikan apapun yang telah ditetapkan oleh pikiran. Prinsip komitmen untuk menyelesaikan, memastikan bahwa sesuatu yang dimulai harus segera diselesaikan.
Prioritaskan dan lakukan hal yang benar pada waktu yang tepat, dapat secara efektif mengontrol waktu dan membuat kehidupan menjadi lebih berarti. Tata kelola setiap jam, menit, detik. Lakukan perubahan, terapkan prinsip 30 detik dan jangan menunda. Secara efisien menggunakan waktu, membebaskan lebih banyak waktu atau diri sendiri. Kelola menit-menit dan waktu sehingga dapat mengelola hidup kita.
            Lakukan apa yang telah dikatakan, bertindak berdasarkan apa yang sudah diucapkan. Luangkan waktu untuk memikirkan apa yang  ingin dicapai dan rumuskan sebuah rancangan untuk meraih target. Gunakan strategi-strategi yang disarankan untuk mendorong mencapai hasil yang diinginkan dan tidak menyianyiakan waktu dan umur yang singkat.

Teok Aik Cher, 2012. Mengapa Menunda?- Mengapa Bertindak? -Mengapa Menyederhanakan?. Indeks; Jakarta.

Tuesday, 30 April 2013

"kuatkan aku, bu"


Berikut cerpen yang sengaja gue tulis untuk mengikuti kompetisi dengan tema "Perempuan Dalam Cerita" oleh Ika Natassa di blog pribadinya.

            Aku. Panggil saja aku dengan gadis tanpa senyum. Wajahku selalu terlihat murung, begitu sapa teman-temanku. Mereka hanya tahu sedikit tentang kepribadianku. Aku tak jarang diam, tak sering juga berbicara. Pikiranku dipenuhi tanda tanya besar mengapa aku dilahirkan menjadi aku. Bukan dia, ataupun dia. Dengan mata menunjuk kearah perempuan-perempuan yang berlalu lalang dihadapanku.
            Kehilangan, sebuah kata singkat yang sangat menyakitkan untuk dirasakan. Kecilku, sudah mengajarkan betapa berharganya orang lain bahkan benda sekalipun sebelum akhirnya kami harus kehilangan. Sepeda roda empatku, berwarna merah muda dan memiliki keranjang di bagian depannya sempat menjadi teman bermain saat aku berumur balita, tapi aku harus kehilangan itu karena seorang pemulung mungkin lebih layak mengambil dan mempergunakannya. Pikirku di masa sekarang.
            Kehilangan seseorang terdekat lebih menyakitkan dari apapun. Ibu, aku kehilangan kasih sayang serta perhatiannya. Sesosok ibu yang tak bisa lagi aku temui. Wajahnya yang cantik, hanya tidak lebih dari 24 jam dalam 365 hari aku dapat menjumpainya. Apakah adil? Perpisahan dengan ayah berdampak buruk buatku. Jiwaku sepi, tak terarah dan hilang.
            Mataku tertuju pada anak perempuan yang sedang berjalan dengan ibunya, sangat menyenangkan melihat keakraban diantara mereka. Keirianku sering kali muncul setiap momen seperti ini sesekali aku khayalkan. Pada mereka yang begitu mudah menceritakan keluh kesah satu sama lain, tanpa canggung seorang anak kepada ibu ataupun ibu kepada anaknya. Aku lupa bentuk perhatian dan kasih sayang ibu, berbagai macam pesan ibu kepada putrinya. Anak itu menggandeng lengan ibunya yang berparas cantik tidak jauh cantik dengan dirinya.
            Lamunanku berhenti pada perempuan yang hampir lima tahun meramaikan rumah serta mendampingi ayah menghidupkanku. Walau secara kasat mata ia pantas menjadi seorang ibu, bagiku ia hanya sesorang wanita dewasa yang belum memiliki pola pikir dan hati sesdewasa umurnya. Umurku yang memasuki kepala dua berusaha membiarkan dirinya mendidik seperti apa yang ia inginkan.
“kamu jangan makan di luar kalau di rumah ada makanan layak untuk di makan”
“kamu jangan menerima uang lebih selain uang jajan dari ayahmu”
“kamu jangan meminta ayah untuk mengantarmmu”
“kamu harus merapikan dan bantu membersihkan isi rumah setiap paginya”
“kenapa ayah lebih perhatian kepadamu dibanding ibu”
Larangan, keluhan, peraturan lain seakan membuatku jenuh. Menyuruhku untuk berontak. Menyudahi kebatinan perasaanku. Harapanku mendapatkan kedekatan hangat dengan sesosok Ibu tidak mungkin aku dapatkan. Hubungan kami masih teramat dingin. Aku tak ingin memiliki peraturan jauh dari ayah bertemu dengannya. Aku ingin kembali pada hak-hak ku layaknya seorang anak dengan orang tua mereka. Hubungan wajarnya orang tua terhadap anak mereka tanpa harus ada yang membatasi.

                                                                                    ***
“Maafkan ibu, nak. Hanya ayah yang tahu betul mengapa ayah dan ibu memutuskan hubungan sepasang suami istri”
Kalimat itu memberi penjelasan bahwa aku belum benar-benar mengerti dan paham dengan permasalahan mereka. Entah aku tak perlu tahu bahkan tak usah tahu sama sekali dengan alasan mereka. Yang jelas, keakraban ku berkurang semenjak perpisahan beberapa tahun dengan ibu
“aku berat bu terbuka dengan ibu, ingin sekali menceritakan masa remajaku kepadamu namun, rasa canggung itu seakan menahanku untuk membuka mulut untuk bercerita.” Ucapku dalam hati saat aku berhadapan dengan ibu.
“Ibu ga kangen sama ayah?” pertanyaan selugu itu aku tujukan padanya.
Ibu hanya diam dan tersenyum manis.
“Ibu ga sedih?” melanjutkan rasa penasaranku.
Matanya terlihat mulai berkaca-kaca dan mulai mengeluarkan sepatah dua patah kata, “nak, ini sudah takdir Tuhan memisahkan Ibu dengan ayah. Ayahmu yang memiliki hak penuh memutuskan hubungan ibu dengan ayah dan ibu dengan kamu. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”
“Tapi bu, ibu ga tau rasanya tinggal sama orang yang tidak sejalan dengan kami.” Balasku.
“Ibu paham, nak. Kamu harus kuat, yang sabar sebagai anak Ibu kamu harus nurut dengan ayah dan ibu barumu disana. Ibu tidak benar-benar dapat mengurusmu total kalau hak asuhmu ada di tangan Ibu.” Jelas Ibu.
“Sabar sampai mereka memutuskan untuk berpisah seperti ibu dengan ayah?” tanyaku bergejolak.
“Husss kamu ini, jangan mendoakan yang tidak baik seperti itu. Doakan selalu yang baik-baik untuk kebahagiaan ayah dan juga kebahagiaanmu.” Tegas Ibu.
Secara tidak sadar, aku merasakan percakapan hangat dengan Ibu. Kejadian yang begitu sulit dapat aku rasakan. Mencintai Ibu, haruskah aku tetap mencintai Ibu di tengah keadaan seperti ini? Ia tak lagi mengurusku. Jauh dari kegiatan hari-hariku. Tak lagi mengenal siapa aku di masa remaja hingga sekarang.
“Ibu akan selalu mendoakanmu walau jarak membatasi kita, nak” kalimat itu, kalimat yang membuat aku yakin bahwa ibu akan tetap menjadi sesosok Ibu yang melahirkanku, memberi banyak pola didik di masa kecil yang tak lagi dapat aku rasakan di usia seperti sekarang. Untuk masa depanku, cara didik Ibu memberikan banyak pelajaran bagaimana aku suatu saat nanti menjadi sesosok Ibu yang juga akan memiliki seorang anak.
                                                                        ***
Aku menemukan pilihan terberat. Melanjutkan sekolahku di Jakarta atau luar kota. Ayah melarangku untuk jauh dari keluarga, namun rasa keinginanku untuk mencoba mandiri lebih besar dari ketakutan itu semua. “Aku ingin menemukan jati diriku sendiri, yah” namun ayah tetap saja melarang dengan keras.
Tak lagi ada yang dapat memberikan aku masukan selain guru di sekolah. Ia menyarankan untuk mengikuti saja apa yang ayah mau. Aku pun bersikeras untuk menetap di luar kota, selain tidak harus bertemu dan merasakan konflik batin dengan Ibu tiriku, aku dapat menata kehidupan baru lebih baik. Itulah alasan yang juga aku sampaikan pada ayah. “Aku akan menjadi diriku yang jauh lebih baik, yah. Tidak akan mengecewakan keluarga.”
Dengan berat rasa, Ayah memberikan izin padaku. Ayah melepas putrinya untuk menempuh pendidikan di kota lain. Perasaan senang bercampur sedih membuat aku semakin kuat melepas permasalahan-permasalahan yang sempat berputar dipikiranku. Aku akan melanjutkan masa depanku disana. Membuat Ibu bangga. Memberi yang terbaik untuk ayah dan menjadi sesosok perempuan Dewasa bagi orang-orang yang ada buatku. Gadis tanpa senyum akan kembali menjadi Gadis ceria penuh senyum. Itulah tekadku.

Friday, 12 April 2013

Don't too fast don't too easy

Definisi sayang secara gue pribadi adalah menyayangkan sesuatu yang hilang, rusak dan merugikan buat pribadi masing-masing. sayang kan?
Gak gitu juga sih haha itu lelucon aja kok.
Jadi gini ders, seminggu ini seakan otak gue diajak muter semuter-muternya untuk nemuin satu titik yang diinginin sama hati gue.
sore tadi.. gue cuci otak sama anak-anak ngawur, dan akhirnya menemukan jalan keluar atas tanda tanya dalam hati gue.
emang wajarnya.. perasaan seseorang bisa berubah kapanpun dan dimanapun, tapi yang namanya perasaan ga cuma sayang aja kan?
biasanya seseorang yang mengawali ketertarikan pada seseorang itu pertama, fisikly.
berawal dari suka, yang kemungkinan besar menjadi sebuah obsesi, penasaran dan ingin memiliki.
rasa sayang itu ga muncul gitu aja tanpa sebab, banyak kriteria-kriteria yang perlahan muncul yang ngebuat rasa sayang itu mulai hadir.

gue punya tips gimana caranya cari tau kadar perasaan sang gebetan dengan lo >>
pertama: yang harus ada di pikiran lo, masa-masa pdkt itu emang selalu manis. cowok/cewek kalo udah obsesi ya apapun juga akan dilakuin demi orang yg dia suka.
kedua : kepo via socmed, seberapa jauh ke kepoan lo tentang masa lalu dan kesehariannya dia sekarang.
ketiga : kepo lewat temen-temen deketnya, paling engga satu aja lo kenal biar bisa tanya beberapa hal yang ga buat lo mati penasaran siapa dibalik gebetan lo itu.
keempat : kenalin lebih dalam sifat, sikap diri lo di depan dia dan sebaliknya. sebelum ke jenjang berikut, kalian harus sama-sama yakin kenyamanan satu sama lain.
kelima : minta dukungan atau pendapat dari orang-orang yang kenal sama kalian tentang hubungan kalian. walaupun sebagian orang banyak yg berasumsi kalo sebuah hubungan itu yg nilai yang ngejalanin, tapi orang-orang sekitar masih berhak menilai deh, yakin. di dunia ini ga cuma lo dan lo aja derss !
semua butuh proses, ga ada yang manis datang secepat itu, sesuatu yang baik ga boleh terburu-buru, ga boleh ada paksaan dan ga boleh tanpa niat.
niat baik harus diakhiri dengan sesuatu yang baik pula :)